ASTAM Tak Merasa di Atas Angin

by admin on 4 months ago




IJL.Com- Unggul catatan statistik mentereng dari Laskar Pelangi tidak membuat ASTAM lupa daratan. Butuh dukungan pemain ke-12.

Datang ke babak fase knock-out 16 Besar IJL U-13 dengan label juara Grup Sensation tidak membuat armada ASTAM jemawa. Tim yang bermarkas di Tangerang Selatan itu menyadari mereka justru harus lebih banyak berkaca diri.

Tak ada gading yang tak retak, mungkin itu peribahasa paling tepat untuk anak-anak ASTAM. Semakin berisi semakin merunduk sesuai filosofi ilmu padi boleh juga untuk jadi pegangan.

"Di setiap latihan pemain dituntut untuk disiplin posisinya masing-masing dan selalu ditekankan untuk bermain secara proaktif. Selain itu mereka harus kuat dalam penguasaan bola dan cepat pada saat melakukan transisi," ujar pelatih ASTAM, Heri Komarudin.



"Ya, walaupun sudah sesuai target kami tidak boleh terlena dengan posisi juara grup, kami harus bekerja lebih keras lagi. Butuh sinergi antara pelatih, pemain, dan orangtua (suporter) untuk menjadi juara di IJL," tegas Heri.



Sokongan pemain ke-12 diyakini Heri memang bisa menjadi senjata ampuh agar anak-anak asuhnya tetap bermain dengan semangat yang lebih tangguh. Bahwasannya ASTAM memang belum sampai ke puncak yang tertinggi, masih banyak kerikil tajam di pelupuk mata.

Karena itu pula Heri menyebut tim asuhannya sama sekali tidak merasa di atas angin saat jumpa Laskar Pelangi pada babak fase knock-out 16 Besar IJL U-13, Sabtu (13/7). Meskipun unggul secara kualitas materi pemain hingga diselimuti rekor statistik mentereng dibanding calon lawannya tersebut, sang pelatih menyebut faktor itu bukan menjadi jaminan Dzaky Fawwaz dan kawan-kawan bisa dengan mudah pulang dengan kepala tegak.

Selama babak penyisihan grup, ASTAM punya catatan produktivitas gol kelas wahid, 37 kali merobek jala gawang lawan. Sementara Laskar Pelangi berbanding jauh terbalik, Anang Aditya dan kawan-kawan hanya mampu melesakkan tujuh gol, dua diantaranya lewat titik penalti dan 85 persen terjadi pada babak kedua.

"Kami selalu menganggap setiap pertandingan adalah final, jadi siapapun lawannya kami selalu siap untuk bermain maksimal," tegas pelatih berlisensi C AFC tersebut.





"Selalu ada adaptasi untuk setiap pertandingan karena setiap tim mempunyai gaya bermain berbeda-beda. Laskar Pelangi adalah kesebelasan yang diisi oleh pemain dengan semangat militan, namun semua itu sudah kami antisipasi di latihan," terang Heri.



Pada satu sisi, Heri juga tak lupa mengingatkan pesan khusus untuk salah satu anak asuhnya yakni Reza Wahyu Hidayat. Seperti diketahui saat ini bocah asal Limo, Depok itu juga tengah berjuang dalam gelar perebutan sepatu emas, lambang supremasi raja gol.

Puncak cappocanieri diduduki Reza, 11 gol sudah dicetaknya, terakhir gawang Java Soccer Academy jadi korban. Meski demikian di bawahnya bercokol nama-nama yang siap mencongkel seperti Odilo Pinutusta (10), Randi Ilham (8), Satrio Mega Insan (8) sampai Saubyhaky Putra (7).

"Reza harus lebih berani melakukan penetrasi ketika dekat dengan kotak penalti. Paling penting ia harus bermain lebih kolektif," tandas Heri.



  • Tags