Bakti Rosdianto; Dari Atletico Madrid Sampai Diego Simeone

by admin on 1 year ago




IJL.Com- Tidak perlu jauh-jauh datang ke Stadion Wanda Metropolitano untuk melihat sepak terjang klub raksasa asal Spanyol, Atletico Madrid. Di IJL Mayapada U-13, aura Los Rojiblancos ada dalam jiwa Satria Muda Football Academy. 

Melihat logo Satria Muda Football Academy (SMFA) praktis membuat kita teringat pada Atletico Madrid. Sekilas memang tidak ada perbedaan mencolok, ibarat kata bagai pinang dibelah dua.

SMFA sendiri berdiri sejak 2010. Di tahun yang sama, Altetico mulai menancapkan kuku emasnya, tidak hanya di Spanyol, mata pecinta sepak bola Eropa bahkan Dunia pun mereka buka lebar-lebar. Seakan seperti ada pembuktian kalau Negeri Matador bukan hanya soal Real Madrid atau Barcelona melulu.





Ya, siapa tidak kenal nama-nama beken seperti David de Gea atau duet maut Diego Forlan-Sergio Aguero saat itu. Mereka seperti jadi simbol perlawanan Los Rojiblancos. Sebagai bukti sahih, trofi Liga Europa mampu dipeluk ditambah gelar Piala Super Eropa kala di partai final membekuk Inter Milan.





Meski ketiganya sudah hijrah, hal itu tidak membuat Atleti mendadak layu. Di bawah komando Diego Simeone justru makin menggila. Catatan juara La Liga 2013/2014 hingga masuk ke dua partai final Liga Champions dalam rentang waktu tiga musim jadi fakta tidak terbantahkan.

Bisa jadi rentetan sejarah tersebut jadi kunci untuk membuka tabir hubungan SMFA dan Atleti. Alih-alih disebut minim kreativitas, pendiri SMFA, Bakti Rosdianto punya argumen cukup kuat.

"Ya betul kami punya kemiripan, karena saya memang ngefans dengan Atletico Madrid. Waktu Fernando Torres jadi kapten termuda, era mendiang Luis Aragones," sebut Bakti tersenyum.



Sebuah fakta terungkap, ada makna filosofis di balik logo tim yang bermarkas di Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Banten tersebut. Seperti sepak terjang Atleti, SMFA enggan dipandang sebelah mata. Tidak hanya itu, reputasi Los Rojiblancos yang selalu melahirkan pemain-pemain berbakat juga kian menambah motivasi Bakti dan kolega.

"Banyak striker hebat lahir dari Atletico Madrid seperti Fernando Torres, Diego Forlan, Sergio Aguero, Diego Costa sampai kini Antonio Griezmann. Jangan lupa di sektor penjaga gawang setelah David de Gea ada Thibaut Courtois dan sekarang Jan Oblak. Intinya banyak bintang muncul dari markas Los Rojiblancos," terang Bakti.



"Kami ingin mencontoh semangat tersebut, tim yang tadinya dipandang sebelah mata kini bisa membuat banyak kejutan. Setidaknya di IJL Mayapada U-13 nanti ada daya juang Los Rojiblancos dibawa anak-anak yaitu menyulitkan SSB papan atas," sambung pelatih berusia 38 tahun yang juga mengarsiteki Persita Tangerang U-15 itu.





Pun begitu dengan karakter seorang Diego Simeone, entrenador berdarah Argentina yang sudah mendapat tempat khusus di hati Bakti. Filosofi sepak bola sedap dipandang mata ala El Cholo benar-benar jadi patron dirinya saat mendampingi anak-anak SMFA.

"Di bawah arahan Simeone, permainan Atletico jadi semakin enak dilihat. Saya suka filosofi sepak bola yang ia punya, selalu menyerang dari lini ke lini," ucap Bakti.

"Satu lagi, ia mampu memaksimalkan materi pemain yang ada di dalam skuat asuhannya. Di SMFA, cara itu selalu saya tiru," tandas Bakti.



Bukan cerita baru juga kalau Simeone tipe pelatih yang suka "daun muda" hingga bisa membuat Atletico sampai sekuat seperti sekarang. Ia meyakini dalam membentuk tim dengan sistem sepak bola yang kuat harus ada sebuah keberanian untuk mengambil investasi jangka panjang.

Selayaknya, pedoman tersebut juga jadi pegangan seluruh elemen SMFA. Sebagai kesebelasan tim level kelompok umur, proses alami adalah jalan terbaik jika ingin lahir potensi-potensi emas dengan kualitas kelas wahid dari tahun ke tahun.

"Saya senang dengan performa para pemain muda Atletico. Ini program yang sudah dibangun selama tujuh tahun. Hal terpenting dari sebuah tim adalah kehadiran pemain muda dan berharap performa bagus mereka bisa berlanjut," tutur Simeone.



"Tapi saya tidak menginginkan pemain muda yang selalu ingin menonjolkan dirinya sendiri. Jika kamu tidak memberikan semua yang dipunya dan saya bisa merasakannya, pemain lain akan mengambil tempatmu. Tidak ada yang bisa menjamin mempunyai posisi aman di tim, dan jika terlena maka hasilnya kamu bisa keluar dari pilihan pelatih," ujarnya.




  • Tags