Darah Mbonek GRT Sitanala

by admin on 2 weeks ago




IJL.Com- Cikal bakal lahirnya GRT Sitanala Soccer School tidak bisa dipisahkan dari militansi suporter Persebaya Surabaya atau yang dikenal dengan sebutan Bonek. Ijo royo-royo, wani Bripka Hery!

Fanatisme dalam dunia sepak bola tak selalu berujung negatif. Bentuk kecintaan pada sebuah klub kebanggaan bisa dilukiskan dalam berbagai bentuk dimensi ruang.

Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Hery Suyanto, fans berat Persebaya. Hidup di tanah perantauan tidak membuat darah "mbonek" pria berusia 38 tahun itu luntur namun justru semakin kental.

Wadahnya ia tuangkan kala membidani lahirnya GRT Sitanala Soccer School pada 18 Agustus 2018. Aroma Green Force sudah tercium saat melihat derap langkah Asril Marzuki dan kawan-kawan.

"Slogan atau yel-yel kami bunyinya GRT Wani, GRT Jaya. Nampaknya memang sudah kental aroma Persebaya sekali ya," ujar Hery sambil tersenyum lepas.


"Jerseynya pun tidak bisa lepas dari warna hijau," tambah pria asli Surabaya tersebut.





Mendukung Persebaya sejak 1987, banyak kenangan manis maupun pahit dirasakan oleh Hery. Laga Persebaya kontra PKT Bontang musim 1993 di Stadion Gelora 10 November jadi catatan yang paling membekas. Namun bukan mbonek namanya jika kenal kata kapok.

"Sejak kelas dua SD dukung Persebaya, mainnya masih di Stadion Gelora 10 November," terang Hery.



"Waktu itu sempat kena pentung oleh polisi, maklum jiwa mbonek. Sempat benci sekali dengan aparat kepolisian tapi sekarang saya justru menjadi anggota polisi," ungkap Hery yang berpangkat Brigadir Kepala (Bripka) itu seraya tertawa lebar.



Dari kacamata Hery, Bonek yang sekarang memang jauh lebih "kekinian". Tidak heran, musim 2018 lalu Persebaya meraup keuntungan 7,5 miliar dari penjualan merchandise original ditambah pemasukan tiket sebesar 25 miliar. 

Di tengah kesibukannya menjalani aktifitas di Polres Bandara Soekarno-Hatta, Bripka Hery terbilang rela menghabiskan waktu Tangerang-Surabaya untuk sekadar menumpahkan rasa rindu mendukung tim kebanggaan bersama dua jagoan kecilnya. Ya, sekali mbonek tetap mbonek.

"Bonek era sekarang lebih disiplin, mereka beli tiket tidak seperti zaman dulu, tapi kekompakannya masih melekat, jiwa sosial sesama suporter juga lebih tinggi," ujarnya



"Sekarang Bonek pergi ke stadion tidak hanya nekat tetapi juga bondho (modal) dan nekat," tegas Hery yang menjadi anggota kepolisian sejak 2001 itu.



GRT sendiri merupakan singkatan dari tiga anak Hery yakni Gibran Rajendra Taraka, Gavin Raija Talaya dan Griselda Rheva Thalia. Bagi tim komite Indonesia Junior League nama Gibran memang sudah tidak asing mengingat label bonek cilik yang pernah masuk dalam barisan skuat All Stars IJL 2018 saat masih berseragam FU15FA Bina Sentra U-11.

"Dulu sebenarnya saya kurang sreg saat melihat Gibran menjadi seorang kiper, tapi sekarang Gavin justru mengikuti jejak kakaknya. Tidak tahu ya, mungkin ada darah kiper yang mengalir," ujar Hery yang mengaku ngefans berat dengan penjaga gawang legendaris Persebaya, Hendro Kartiko.

GIBRAN RAJENDRA TARAKA

GAVIN RAIJA TALAYA

Selain itu, berdirinya GRTS Soccer School juga memberi warna baru untuk kawasan Sitanala yang sejak 1950-an identik dengan rumah sakit para penderita kusta. Aura magis si kulit bundar kini benar-benar terasa, tepis jauh stigma negatif.

"Alasan saya mendirikan GRTS sebenarnya sangat sederhana, ingin sepak bola usia dini Indonesia lebih maju, oleh karena itu saya menggandeng coach Rolli Yasin yang sudah malang-melintang di level grassroot," tambah Hery.





"Betul, Sitanala memang identik dengan penderita kusta. Saya bekerja sama dengan pihak rumah sakit untuk mendirikan SSB agar pandangan orang tidak seperti dulu lagi, setidaknya ada warna baru yang ingin kami tiupkan," tandas Hery.







  • Tags