Drawing Group IJL 2019; Saling Intip, Saling Raba, Lempar Senyuman

by admin on 1 week ago




IJL.Com- Agenda technical meeting sekaligus drawing group Indonesia Junior League (IJL) 2019 untuk kategori U-9 dan U-11 baru saja digelar. Label jawara ASIOP Apacinti dan Putra Sejati mulai "terancam".

Peluit kick-off IJL U-9 dan U-11 akan dibunyikan dua pekan lagi tepatnya pada Minggu (31/3). Total, 66 SSB dari penjuru Jabodetabek hingga Karawang sudah siap naik pentas.

Setelah menggelar proses screening pemain, technical meeting dan drawing group jadi agenda terkini. Bertempat di Sawangan pada Kamis (14/3) sore, perwakilan tim kontestan berduyun-duyun menyerbu venue yang sudah identik dengan Pusat Pelatihan Timnas Indonesia itu.

"Acara berjalan tanpa hambatan, banyak kontestan khususnya dari tim-tim debutan yang sudah sangat mengerti regulasi IJL. Hingar-bingar kompetisi selama satu tahun belakangan nampaknya betul-betul mereka perhatikan atmosfer sekaligus dinamikanya," ujar CEO Indonesia Junior League, Rezza Mahaputra Lubis.





"Antusiasme pelatih dan manajer SSB yang bikin saya salut, bahkan ada yang datang satu jam lebih awal. Ruangan technical meeting padat-merayap, kira-kira hampir 90 orang hadir. Sekali lagi, saya ucapkan terimakasih untuk animonya," sambung Rezza dengan wajah semringah.







Di U-9, 32 tim yang akan berlaga terbagi menjadi dua grup (Phenomenon & Sensation) dimana masing-masing bagan terdiri dari 16 tim. Pun untuk U-11, bedanya jumlah kontestan akan jauh lebih banyak yakni 34 tim.





Sesuai hasil undian, jawara bertahan U-9 yakni ASIOP Apacinti tergabung di Grup Sensation. Datang dengan aroma berbeda 180 derajat dibanding musim sebelumnya membuat skuat berjuluk Mutiara dari Senayan lebih nyaman diberi status tim kuda hitam.

Yang paling menarik adalah Putra Sejati U-11. Tim yang bermarkas di Pegadungan, Jakarta Barat itu ada di Grup Phenomenon. Misi mempertahankan mahkota gelar juara dikepung peserta-peserta debutan.







Rata-rata hasil drawing group melahirkan banyak senyuman diantara wajah para pelatih. Meski mengaku masih agak sedikit meraba-raba, tidak sedikit dari mereka yang mulai tebar "psy-war".







"Di musim 2019 ini IJL punya beberapa regulasi baru. Misalnya dengan mengkombinasikan sistem 3 on 3 dengan tembakan adu penalti," terang Rezza.



"Laga All Stars atau perang bintang di penutupan kompetisi nantinya kami akan kemas berbeda termasuk soal durasi bermain. Pastinya lebih eye-cathcing dan kental bumbu entertainment dibanding musim-musim sebelumnya," tambah Rezza.





Di lain hal, Rezza juga bersyukur atmosfer kompetisi IJL yang kian semarak tiap musimnya bisa berdampak lebih positif untuk tim-tim SSB tidak hanya dari segi teknis pembinaan namun juga sisi "nilai jual". Ya, pembinaan sepak bola usia dini Indonesia kini tengah memasuki gerbang baru. 

"Saya juga melihat sudah banyak tim peserta yang akhirnya hadir dan mendapat dukungan dari berbagai macam sponsor. Hal ini menandakan eksistensi SSB sudah memiliki nilai jual lebih baik. Banyak yang terbantu dengan pemberitaan di website juga akun sosial media IJL," ujar Rezza.







"Saya berharap IJL tahun ini bisa memberikan warna baru yang lebih menarik. Tentunya apalagi kalau bukan menyehatkan iklim pembinaan usia dini yang lebih profesional," tandas Rezza.




  • Tags