Fahmi Ramandhana; Cinta di PSB, Mimpi ke Persija

by admin on 3 months ago




IJL.Com- Kecintaan Fahmi Ramandhana pada Kota Bogor nampaknya sulit dilukiskan dengan kata-kata. Tiupkan mimpi hingga ujung api tugu Monas.

Wajah Fahmi Ramandhana tengah berseri-seri. Bukannya tanpa alasan mengingat label pelatih terbaik pekan pertama IJL U-9 baru saja ia bawa pulang ke Kota Bogor.

Datang dengan status pelatih debutan memang tidak membuat juru taktik SSJ Kota Bogor itu kagok. Performanya di pekan pertama lalu terbilang cukup berhasil mulai dari catatan manis yang diraih anak asuhnya sampai attitude positif yang ia tiupkan dari pinggir lapangan.

"Campur aduk rasanya, masih belum percaya bisa terpilih menjadi pelatih terbaik di pekan pertama apalagi dengan status SSJ Kota Bogor sebagai tim debutan. Alhamdulillah, bersyukur," buka Fahmi.



"Tapi ini bukan target utama saya karena hasil anak-anak sebagai satu kesatuan tim tetap yang terutama. Sekali lagi sangat bersyukur dan tak lupa ingin ucapkan terimakasih kepada pihak IJL yang memberikan penghargaan juga semua pihak yang telah mendukung saya terutama rekan-rekan pelatih di SSJ Kota Bogor," tambah Fahmi.



Fahmi sendiri bisa dibilang termasuk orang baru di kancah pergulatan sepak bola usia dini Tanah Air. Kembali pulang ke "rumah" jadi faktor utama dirinya tak ragu menangani anak-anak SSJ Kota Bogor.

"Awalnya memang senang sama dunia anak-anak. Kebetulan masa kecil saya juga di SSJ Kota Bogor, ketika melihat atmosfer latihan usia dini saya merasa semakin tertantang," jelas Fahmi.



"Untuk memperbaiki sepak bola Indonesia harus dari bawah yaitu mulai dari level usia dini. Ini tidak hanya soal kualitas di dalam tetapi juga luar lapangan," tambah pria asli Bogor tersebut.





Rasa cinta Fahmi pada tanah kelahiran memang tidak pernah berujung. Pernah berseragam PSB Bogor sempat jadi catatan sejarah yang ia torehkan sepanjang karirnya di dunia kulit bundar.

Bagi Fahmi, PSB itu cinta mati. Belah saja dadanya, bisa jadi ada darah biru mengalir deras.

"Terakhir di PSB Bogor itu 2017. Alhamdulillah saya belum pernah cedera tapi mungkin bukan garis tangan saya untuk menjadi pemain profesional. Sempat coba peruntungan ke beberapa tim juga tapi memang dasarnya bukan rezeki," tutur Fahmi seraya tersenyum.



"Sebagai anak Bogor asli tentu ada suatu kebanggaan tersendiri bisa membela PSB. Momen paling tidak terlupakan saat gagal menang di babak 8 besar Liga 3 Zona Jawa Barat, padahal selangkah lagi mewakili Jabar di tingkat nasional. 2007 saat itu, kecewa sekali rasanya," kenang Fahmi lagi.



Dari nukilan sejarah, PSB sendiri bukan tim "kemarin sore". Era 60-an sampai akhir 1990, Laskar Pakuan sempat "mengobrak-abrik" hegemoni klub-klub besar macam Persib Bandung, Persebaya Surabaya, PSIM Yogyakarta di gelaran Piala Suratin. Tidak heran saat itu mereka sempat mendapat julukan tim pembunuh raksasa.

Melihat ke depan dan memahami ke belakang, esensi dari nilai sejarah itu yang jadi pegangan Fahmi. Ia sendiri tidak mau kebesaran nama PSB hanya jadi dongeng pengantar tidur.

"Potensi sepak bola di Kota Bogor sangat menjanjikan. Hanya ketika masuk ke usia remaja bakat mereka tidak tersalurkan. Harus lebih diperhatikan lagi memang, dari SSJ sendiri sebenarnya pernah lahir Asep Berlian yang kini berseragam Madura United," terang Fahmi.



"Seharusnya PSB juga bisa menjadi penyeimbang dua kutub sepak bola yaitu Jakarta dan Bandung karena histori Laskar Pakuan yang pernah disegani di Jawa Barat. Hanya saja sekarang persepak bolaan Kota Bogor memang seperti mati suri khususnya di level senior," tegas Fahmi.





Pasca memutuskan untuk gantung sepatu, Fahmi sendiri kini memang lebih fokus menghabiskan hari-harinya di SSJ Kota Bogor. September 2018 lalu, lisensi kepelatihan D Nasional baru saja ia kantongi sebagai bentuk komitmen paling awal.

Namun usut punya usut, ada mimpi besar yang tengah dibidik oleh Fahmi. Ya, selalu ada nama Persija Jakarta yang melintas dalam benaknya.

"Saya juga sangat cinta Persija, pernah punya mimpi pakai lambang Monas di dada. Jadi pemain sudah tidak mungkin, ya mudah-mudahan bisa melatih Persija suatu saat nanti biarpun saya sadar pasti sulit jalan untuk menuju kesana," ungkap fans berat Ismed Sofyan tersebut.

"Bogor tempat kelahiran dan saya besar disana tapi mimpi saya ada Ibu Kota," tandas Fahmi.




  • Tags