Hampir Digerus Zaman, Java Soccer Academy Gagah Berkibar

by admin on 5 months ago




IJL.Com- Dinamika sepak bola usia dini Indonesia sempat membuat Java Soccer Academy tertidur lelap. Bawa mimpi dari Batam, Eric Budi Santoso ogah patah arang.

Menjaga eksistensi Java Soccer Academy bukanlah hal yang mudah untuk seorang Eric Budi Santoso. Berdiri sejak 2007, tim dengan warna kebanggaan merah-kuning itu faktanya sempat vakum "ditelan" zaman.

Dinamika sepak bola usia dini di Indonesia memang pernah menghantam Java. Badainya tak kuasa dihadapi oleh Eric seorang diri.

Java awalnya bermarkas di Jakarta Utara tepatnya di Lapangan Diamond, Pantai Indah Kapuk. Seiring berjalannya waktu, mereka sempat berpindah-pindah tempat sampai akhirnya hijrah ke Cilandak Jakarta Selatan hingga Halimperdanakusuma, Jakarta Timur.

"Kami sempat vakum 2011-2015, ketika itu banyak akademi sepak bola franchise dari luar negeri menyerbu Indonesia," ungkap Eric.



"Bisa dibilang kehilangan pangsa pasar, salah satu momen pahit yang belum bisa dilupakan," tambah Eric seraya tersenyum.





Meski demikian, Eric tidak mau menyerah, berbekal relasi kuat semenjak menimba ilmu di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Jakarta (FIK UNJ), Java ia bangunkan dari tidurnya. Satu yang pasti, ada sebuah mimpi yang ingin selalu dirawat.

Java bisa dibilang memang sudah menjadi separuh nyawa untuk Eric. Bukannya tanpa sebab mengingat ia mendirikan Java sejak masih duduk di bangku kuliah.

Dari Batam, mimpi dan cita-cita itu ia labuhkan. Berjuang di tanah perantauan, pahit-getir kota metropolitan diterjang.

"Saya lahir dan besar di Batam, 1997 pindah ke Jakarta pas masuk SMA 39 kemudian kuliah di UNJ. Benar-benar merantau tanpa keluarga, 2005 orangtua baru menyusul," terang Eric.



"Embrio Java sebenarnya ada sejak 2003, waktu itu saya masih kuliah semester kedua. Relasinya masih teman-teman kampus dan anak SMA, ya masih kecil-kecilan," ujar Eric.



"Sembari menambah kantong anak kuliah juga saat itu tapi dasarnya saya memang suka sekali dengan sepak bola. Hobi yang menjadi kebutuhan istilahnya," tutur Eric seraya tersenyum lebar.



20012019-b-24-habs-vs-java-soccer-academy

Usut punya usut, nama Java yang diambil Eric pun mengandung cerita unik. Selayaknya generasi 90-an, masa kecil Erick tidak bisa lepas dari hingar-bingar sepak bola Negeri Pizza, Italia.

Menyebut satu klub, Eric dengan tegas menyebut Juventus sebagai tim favoritnya. Soal pemain idola, ayah dua anak itu dengan lantang menyebut si kuncir kuda, Roberto Baggio dan megabintang asal Perancis, Zinedine Zidane.

"Nama Java itu saya ambil dari Juventus. Java dan Juve, ya dikait-kaitkan saja," ujar Eric tak kuasa menahan tawa.



"Dulu pas masih tinggal di Batam andalannya nonton Juve ya cuma lewat televisi, tanpa antena parabola pun disana bisa dapat siaran luar negeri. Cari berita soal I Bianconeri juga selalu sempatkan untuk beli Tabloid BOLA kemudian koleksi poster-posternya," ujar pemegang lisensi kepelatihan D Nasional itu.



Di samping perannya sebagai founder Java Soccer Academy, Eric juga bertugas sebagai tenaga pendidik di SD Cikal. Perannya sebagai guru olahraga memang membuat wajahnya selalu terlihat jauh lebih muda.

"Dulu tidak sempat kepikiran menjadi guru, ya mengalir saja. Tapi untungnya banyak gaul dengan anak-anak membuat saya selalu lebih muda," seloroh pria berusia 38 tahun itu.



"Sejak mengajar di Cikal, Java Soccer Academy pelan-pelan saya rintis kembali. Ini juga semacam pembuktian untuk komitmen yang sudah saya ambil untuk kemajuan sepak bola Indonesia," pungkas Eric.

03022019-kmjr-cilegon-vs-java-soccer-academy

u11-28042019-java-soccer-academy-vs-all-star-galapuri


  • Tags