Romantisme Ayah dan Anak di CISS

by admin on 1 week ago




IJL.Com- Hubungan status ayah dan anak tidak membuat Dedi Suryaman punya perlakuan khusus untuk Bayu Dasa Perkasa. Belajar dari Herry Tjong.

Pasangan ayah dan anak dalam dunia sepak bola hingga tergabung dalam satu tim bukan lagi hal yang baru. Di gelaran IJL Mayapada U-13, CISS Soccer Skill jadi salah satu contohnya.

Seperti diketahui, Bayu Dasa Perkasa adalah putra dari pelatih CISS, Dedi Suryaman. Campur tangan Washiyatul Akmal membuat keduanya bisa saling bahu-membahu merasakan atmosfer Indonesia Junior League.

"Waktu Bayu berusia 10 tahun dia terpilih untuk ikut Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) saat itu bela tim sepak bola Kecamatan Karangtengah, Tangerang lalu berlanjut di In-Sport Akademi kemudian sekarang bersama CISS," ujar Dedi.



"Ada peran seorang Washiyatul Akmal sampai kami berdua bisa sama-sama membela bendera CISS seperti sekarang. Lucunya dulu coach Akmal juga tidak tahu kalau Bayu itu anak saya, waktu program In-Sport Akademi ke Belanda kan beliau jadi tim seleksinya," ujarnya lagi seraya tertawa lebar.



Meski demikian hal tersebut tidak serta-merta membuat Bayu mendapat label anak emas. Ya, Dedi menegaskan bukan tipe pelatih yang tebang pilih.

"Tidak ada itu istilah anak emas, di mata saya Bayu sama saja seperti pemain CISS lainnya," ujar Dedi.



"Lewat persaingan di CISS pula saya tanamkan ke Bayu agar tidak manja, jangan cengeng dan harus mandiri. Kalau di tengah pertandingan untuk kebutuhan tim Bayu harus diganti ya saya ganti, dia juga paham soal hal-hal seperti itu," tegas Dedi.





Karakter Dedi yang pantang "balik kanan" pun mengalir deras dalam darah Bayu. Di atas lapangan saat sedang mengolah si kulit bundar, hal tersebut bisa terlihat dengan sangat jelas.

Meski punya badan dengan postur mini, Bayu sama sekali tidak gentar. Kecepatan sekaligus akselerasinya dari sisi sayap jadi senjata paling ampuh menggoyang pertahanan lawan.

Terbukti Bayu pernah masuk dalam rilisan 22 pemain terbaik IJL Mayapada U-13 pekan kedelapan. Saat itu berhadapan dengan Java Soccer Academy, ia tampil menjadi pelayan yang setia untuk Muhammad Arief Firmansyah hingga memudahkan koleganya itu mencetak dua gol sebagai penentu kemenangan tim.

"Kalau ayahnya sudah berurusan dengan sepak bola entah bertanding atau latihan, Bayu pasti tidak mau ketinggalan maunya ikut ke lapangan," ujar Dedi.



"Yang paling membuat Bayu mirip dengan ayahnya itu adalah soal tekad, kalau ada kemauan pasti dikejar terus," ujar ayah dari lima anak itu.





Tidak hanya CISS sebenarnya yang merasakan "romantisme" ayah dan anak di atas rumput hijau. KMJR Cilegon pun merasakan hal tak jauh berbeda dalam diri Harmawan Hidayat dan Alief Faisal Hidayat.

"Saya terinspirasi dengan om Herry Tjong, pesepak bola legendaris Indonesia bagaimana cara mendidik anak-anaknya di dalam dan luar lapangan," ujar Dedi.



"Billy Tjong anak dari om Herry kebetulan cukup kenal dekat dengan saya, pernah satu satu tim sewaktu era Will Coerver di Indonesia. Bill selalu bercerita bagaimana ia dan kakaknya, Eduard Tjong benar-benar dibentuk mental dan karakternya sebagai seorang pesepak bola lewat didikan sang ayah," tandas Dedi.



  • Tags