Aroma Reuni Lapangan Banteng

by admin on 1 week ago




IJL.Com- Rekor tiga kemenangan beruntun dibidik anak-anak CISS Soccer Skill saat jumpa Cipta Cendikia FA. Derby Lapangan Banteng jadi pemanis.

Peluang CISS untuk lolos ke fase knock-out semakin terbuka lebar. 22 poin dari sembilan laga jadi raihan maksimal tim asal Lebak Bulus, Jakarta Selatan tersebut. Hasilnya kini mereka bertengger di peringkat ketujuh klasemen sementara Grup Sensation. 

Poin penuh atas All Star Galapuri pada laga terakhir juga melahirkan sebuah catatan baru. Dua kemenangan beruntun ditorehkan CISS, bukan tidak mungkin mereka akan jauh lebih melesat tajam mengingat masih ada empat partai sisa di babak penyisihan grup.

Ogah besar kepala, begitu pesan sang pelatih, Dedi Suryaman untuk anak-anak asuhnya. Bukannya tanpa sebab, Dedi meyakini posisi anak asuhnya di zona delapan besar belum benar-benar aman.

"Efek dua kemenangan beruntun benar-benar sangat terasa. Anak-anak begitu bergairah menjalani proses latihan tim, mereka terpacu menjaga posisi di zona delapan besar," ujar Dedi.



"Pembuktian sebenarnya memang ada di laga Sabtu nanti melawan Cipta Cendikia FA. Ini tantangan paling besar untuk mengasah kualitas kami. Rotasi tentu tetap jadi pegangan, have fun with soccer, kami ingin semua anak-anak CISS menikmati atmosfer di atas lapangan mulai dari starting line-up sampai pergantian super-sub," tambah Dedi.





Yang tak kalah menarik, pertemuan CISS versus Cipta Cendikia tak ubahnya laga sarat reuni. Di pinggir lapangan, Dedi akan bertemu dengan seniornya saat masih sama-sama berseragam Merdeka Boys Football Association (MBFA). 

MBFA sendiri didirikan oleh Joel Lambert pada 8 Mei 1950. Konon kabarnya metode Will Coerver, juru taktik legendaris asal Belanda, pertama kali turun ke Tanah Air lewat tim yang bermarkas di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat (dulu Ikada) tersebut.

Tidak heran, banyak pemain bintang Timnas Indonesia pernah lahir dari rahim MBFA hasil tangan dingin Joel Lambert. Duo Tanoto, Wahyu dan Budi contohnya, jangan lupakan pula nama Iswadi Idris. Ristomoyo tak kalah melegenda dan tentu saja Bob Hippy.

Kenangan di MBFA bersama Yance itu pula yang benar-benar terekam jelas dalam ingatan Dedi. Memori Lapangan Banteng bagi dirinya adalah sebuah tinta emas dalam perjalanan karirnya di dunia kulit bundar Tanah Air.

"Coach Yance itu senior saya waktu di MBFA. Kami sama-sama dididik oleh almarhum Joel Lambert. Ya bisa dibilang pertemuan nanti duel satu guru, satu ilmu," ungkap Dedi sambil tersenyum.



"Banyak cerita saat bersama coach Yance di MBFA. Dulu kalau tim kami kalah, tidak ada yang berani ketemu bung Joel. Kabur dan ngumpet semua," ujar ayah dari penyerang CISS, Bayu Dasa Perkasa itu.



Gairah Lapangan Banteng akan "dilanjutkan" oleh Dedi dan Yance. Ogah sekadar reuni, aroma derby nampaknya benar-benar tak bisa ditutupi. 

"Coach Yance orangnya sangat disiplin, pekerja keras. Kami juga sudah tahu kelemahan masing-masing," ujar Dedi.

"Tidak ada pesan khusus untuk coach Yance, karena setiap hari kami intens berkomunikasi, biasa saling senda gurau. Tapi mungkin dia masih ingat soal rekor pertemuan, saya masih unggul 1-0," tandas Dedi seraya tertawa lebar.




  • Tags