Febriansyah; Bayar Pengorbanan Tulus Sang Kakak

by admin on 2 months ago




IJL.Com- Diberi kesempatan memanggul ban kapten Serpong Jaya sempat membuat Febriansyah ragu. Pengorbanan tulus dari sang kakak jadi pengiring doa.

Ban kapten Serpong Jaya melingkar dengan gagahnya di lengan Febriansyah. Belum lama memang ia menyandang label El Capitano Black Panther, faktanya Febri sempat dihantui keraguan.

Ya, Febri memang sadar tidak mudah menjadi seorang kapten tim. Pelan-pelan tapi pasti, perannya kini berlipat ganda utamanya jelas sebagai penyambung lidah pelatih.

"Sempat ada beban, saya tahu jadi kapten itu memang tidak mudah. Tak hanya tanggung jawab kepada diri sendiri tapi juga rekan-rekan setim," ujar Febri.



"Jujur awalnya sempat ada rasa takut tapi pelatih akhirnya bisa meyakinkan saya," ujar pemain yang mengidolakan Gerard Pique tersebut seraya tersenyum.



Di bawah "komando" Febri, Serpong Jaya memang tampil digdaya khususnya di sektor lini belakang. Gaya permainan Febri yang lugas dan taktis jadi garansi nyaman untuk Black Panther.

Kuat dalam body charge jadi keunggulan Febri. Urusan duel satu lawan satu, tak terhitung berapa banyak ia mematikan manuver lawan. Salah satu bek yang mulai menarik perhatian komite pemain Indonesia Junior League.

"Awalnya posisi saya gelandang murni, tapi sekarang isi peran sebagai seorang bek," ujar Febri.



"Tanggung jawab saat menjadi bek itu jauh lebih besar, disitu saya jadi semakin tertantang untuk mati-matian menjaga tim agar tidak kebobolan," tegas Febri.



Di Serpong Jaya, Febri sendiri memakai nomor punggung empat. Angka yang memang sudah identik dengan pemain belakang layaknya Sergio Ramos, Virgil van Dijk, ataupun Javier Zanetti hingga legenda hidup Real Madrid, Fernando Hierro.

"Nomor empat ini pilihan kakak saya," ujar Febri.

"Kemana-mana setiap saya bertanding, dia yang nganterin, selalu naik motor berdua, nama kakak saya Muja," sambung Febri.



Pengorbanan tulus Muja ibarat doa untuk Febri. Hubungan kakak-adik yang begitu mengundang inspirasi.

Berjuang di atas lapangan untuk membayar pengorbanan sang kakak, begitu tekad Febri. Tidak akan bisa terbayar lunas memang tapi setidaknya ada senyum terlempar seiring ban kapten yang gagah melingkar.

"Kakak saya kerja di minimarket. Sebisa mungkin ambil libur kalau saya sedang bertanding," ungkap Febri.

"Dia banyak berkorban demi cita-cita saya menjadi seorang pesepak bola. Sudah banyak uang keluar dari kantongnya. Mungkin cara saya membalasnya dengan berjuang di atas lapangan agar ia bisa bangga," tandas Febri.




  • Tags