M Jammy Mulyana: Menepis Gelisah Indonesia Muda Utara




IJL.Com- Kehadiran Muhammad Jammy Mulyana di bawah mistar gawang Indonesia Muda Utara U-9 membuat sang pelatih, Slamet Tony bisa menarik nafas lega. Seraut wajah tegar, semakin berharga kalau terus diasah demi menepis rasa gelisah.

Dalam kancah pembinaan sepak bola usia dini tidak ada istilah terlambat untuk mencoba. Menggali potensi dan talenta emas anak didik pasalnya butuh waktu, bukan bermodal ucap bimsalabim.

Itu yang sempat dirasakan pelatih Indonesia Muda Utara (IMUT), Slamet Tony di perhelatan Indonesia Junior League (IJL) U-9 musim ini. Sempat dibuat pusing kepala gegara kelangkaan penjaga gawang, jawaban mulai muncul ke permukaan alhasil nafas segar ditarik pelan-pelan.

Dalam beberapa momen pertandingan sebelumnya, Slamet memang kerap melakukan bongkar pasang penjaga gawang. Namun problem tak kunjung terpecahkan.

Sampai pada ujungnya, Muhammad Jammy Mulyana datang menjadi aktor utamanya. Lilin terang seakan dibawa memandu IMUT keluar dari lorong gelap.

"Saya dapatkan Jammy dari Indonesia Muda Tangerang, bocah asal Rajeg. Saya akui di musim ini IMUT U-9 sangat kesulitan menemukan penjaga gawang," ungkap Slamet.


"Inilah sebenarnya yang jadi kekuatan Indonesia Muda dimana kami adalah SSB yang tumbuh sampai turun ke daerah sehingga bisa lebih banyak berkolaborasi menggali potensi tersembunyi masing-masing anak didik," ujar Slamet.



Menurut Slamet, Jammy punya syarat untuk menjadi penjaga gawang yang patut diperhitungkan. Ya, kini tidak lagi mudah melucuti kesucian gawang IMUT.

Terbukti di laga terakhir babak penyisihan grup, performa heroik Jammy memaksa barisan pemain GRT gigit jari. Otomatis kemenangan diraih IMUT lewat skor 2-1 sebagai modal untuk berlaga di babak Plate.

"Ia punya postur diimbangi potensi yang menjanjikan. Semenjak ada kehadiran Jammy, terpantik keyakinan IMUT tidak lagi mudah menjadi bulan-bulanan lawan," seru Slamet.



"Jammy tahu di laga-laga sebelumnya IMUT terlalu banyak kebobolan. Tapi saya terus memotivasi dia utamanya agar bermain lepas tanpa beban. Dari raut wajahnya, saya lihat ia bukan tipe kiper yang mudah menyesal jika harus memungut bola dari gawangnya sendiri," sambung Slamet seraya tersenyum lebar.





Slamet sendiri meyakini banyak batu loncatan yang bisa digunakan Jammy untuk melompat lebih tinggi. Meminjam peribahasa, berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian alias bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

"Saya selalu bilang ke Jammy kalau ini baru permulaan dia mencicipi kompetisi IJL. Masih banyak waktu untuk belajar," tutur Slamet.

"Pemain seperti Jammy harus banyak ditempa lewat sengitnya kompetisi IJL. Mudah-mudahan ke depan ia bisa siap naik kelas di level IJL U-11," tandas Slamet.




  • Tags