Rakha Achmad Suparyadi: Mustahil Berlabuh Bila Dayung Tak Terkayuh




IJL.Com- Derasnya pusaran arus persaingan Indonesia Junior League dari musim ke musim tidak membuat Rakha Achmad Suparyadi surut layar. Mengayuh jerih lelah mimpi adalah jalan terbaik.

Jalan masih teramat jauh, mustahil berlabuh bila dayung tak terkayuh. Penggalan lirik lagu dari Iwan Fals yang berjudul 'Maaf Cintaku' tersebut nampaknya layak disematkan untuk Rakha Achmad Suparyadi. 

Ya, setelah musim lalu sempat absen, Rakha kini kembali lagi menginjakkan kaki di atas panasnya panggung kontestasi Indonesia Junior League. Pelabuhannya pun baru, bukan lagi berseragam Gelora Poetra namun membelah panji kebesaran CISS U-11.

"Motivasi Rakha dari 2017 sampai sekarang tidak berubah. Masih cukup tinggi untuk mengikuti kompetisi IJL karena berkat dukungan Rochi Putiray serta Aris Indarto (dua pelatihnya semasa di Gelora Poetra) dan Washiyatul Akmal (pendiri CISS)," ujar sang ayah, Hendra Suparyadi.

"Sampai saya minta tolong bapak Rezza Lubis (CEO IJL) untuk merekomendasikan SSB yang ikut IJL dan concern dengan pembinaan usia dini," ungkap Hendra.



Yang menarik, derasnya pusaran arus persaingan IJL justru membuat Rakha jatuh hati. Hendra mengatakan, ada sensasi berbeda tiap kali sang anak bersimbah peluh keringat menikmati atmosfer kompetisi.

Sudah kadung cinta, begitu Rakha terpesona dengan kompetisi IJL. Wajar saja ia tak kenal kata kapok.

"Ada banyak alasan sebetulnya yang membuat Rakha begitu nyaman dengan kompetisi IJL. Ya sebut saja sarana lapangan yang terbilang bagus, persaingan bersifat kompetitif, keakraban sebagai kawan maupun lawan dan tentunya sesi pendokumentasian yang begitu baik," ujar Hendra.



"Jujur saja, di awal-awal pandemi Covid-19 lalu, mental Rakha sempat drop karena jarang latihan apalagi kompetisi IJL ikut lama tertunda. Tapi ya kembali, ada peran penting para pelatih yang mendorongnya," tambah Hendra.



Rakha sendiri sempat mengaku sangat mengidolakan bek Real Madrid dan Timnas Brasil, Marcelo Viera. Tidak heran, nomor punggung 12 kepunyaan sang panutan pernah melekat erat dalam jerseynya.

"Oh iya, pemain idolanya masih sama, belum berubah. Sayang sekali ya di CISS tidak menyediakan nomor punggung 12," ujar Hendra seraya tersenyum.

"Dulu pasti selalu minta nomor punggung 12, sekarang ya apa adanya saja tergantung muat atau tidak setelah jersey yang sudah disiapkan di CISS. Ya kadang-kadang pakai nomor 17, 27 atau 21," sambung Hendra lagi.





Memang dari segi postur tubuh, Rakha masih sama seperti yang dulu, chubby nan menggemaskan. Namun soal mental, jelas lebih tahan banting.

Daripada sang anak mabuk euforia kemenangan, Hendra justru lebih berharap character building Rakha terbentur guna terbentuk mental juara. Pondasi itu kini dibangun pelan-pelan, pahit manis proses sedang coba ditekuni.

"Perubahan yang terasa dalam diri Rakha adalah sifat leadershipnya. Saat rekan setim down, ia begitu tenang dan mencoba memberikan lebih banyak motivasi. Rakha tidak mengenal takut dalam menghadapi setiap permainan dan itu juga dipahami oleh Coach Akmal dan Bryan sebagai pelatihnya di CISS," tutur Hendra.

"Banyak yang Rakha ambil juga petik dari arena IJL dimana itu semua sesuai tujuan awal saya yaitu dari sisi kedisplinan, kerjasama serta kepedulian pada rekan setim dan tentunya semakin terbiasa dengan yang namanya atmosfer kompetisi," tandas Hendra.




  • Tags