Dhiwa Zahran; "Bersahabat" dengan Bangku Cadangan

by admin on 2 months ago




IJL.Com- Performa progresif Dhiwa Zahran jadi bukti betapa jelinya seorang Sulistyo Hartono. Enggan terlena, saatnya bergegas keluar dari zona nyaman.

Paham dengan potensi emas anak asuh memang jadi ciri khas pelatih Indonesia Rising Star (IRS), Sulistyo "Komeng" Hartono. Berani putar otak, tidak ragu mengutak-atik formula di atas lapangan demi menunjang kualitas individu tiap pemain. Hasilnya, terbukti sahih dari pekan ke pekan.

Dhiwa Zahran bisa jadi salah satu contoh paling unggul. Sempat mengalami sindrom demam panggung pada awal kompetisi, perlahan tapi pasti performa Dhiwa terus meroket tajam.

Jelas, ada peran Komeng di balik gemilangnya penampilan Dhiwa. Pakem 4-4-2 disebut-sebut jadi kunci paling utama.

"Di awal musim dari pekan pertama sampai ketiga Dhiwa cukup kesulitan mengembangkan permainan terbaiknya, berat sekali ia menjalani momen tersebut," ujar Komeng.



"Formasi 3-4-2-1 dengan status gelandang serang membuat dia lebih bermain ke dalam padahal sejatinya ia punya karakteristik melebar dan bermain cepat, tak jarang dengan pola itu ia selalu out position. Tapi segalanya berubah saat IRS bermain dengan pakem 4-4-2, Dhiwa jauh lebih nyaman dan terbukti hasilnya sekarang," ungkap Komeng seraya tersenyum.



Penetrasi cepat jadi senjata andalan Dhiwa, pergerakan dengan atau tanpa bolanya juga terbilang aduhai, tidak jarang sampai memaksa musuhnya "pecah kongsi". Sayatannya pun begitu tajam merobek barikade palang pintu tim lawan.

Visi Dhiwa saat bermain sentuhan satu-dua juga memudahkan rekan-rekan setimnya membuka ruang. Beruntung pula ia disokong gelandang dengan sarat kreativitas seperti Fava Sheva dan Fauzan Akbar.

Stylish. Satu kata itu dirasa paling tepat untuk menggambarkan persona Dhiwa. Tampil artistik menyusun serangan dari lini sayap, sedap dipandang mata, gurih nian.

Bersama Alief Apikri, Dhiwa termasuk yang paling sering dijatuhkan oleh pemain lawan. Gara-gara nomor punggung? Ya bisa jadi.

"Nomor itu (tujuh) saya yang kasih, pelecut untuk dirinya agar bisa bermain seperti idolanya, Cristiano Ronaldo. Semacam cambuk yang positif," ujar Komeng.



"Bicara soal konsistensi, Dhiwa termasuk salah satu pemain favorit saya. Rajin tebar ancaman, tiga gol yang ia buat semuanya berkualitas," tutur Komeng lagi.







Meski demikian, Komeng tak mau Dhiwa tenggelam dalam pujian. Di IRS sendiri tidak ada pemain yang masuk dalam kategori zona nyaman. Telan jerih-payah, tanpa terkecuali.

Semua pemain harus menikmati panasnya bangku cadangkan, itu trik jitu yang diambil oleh Komeng. Bukan bermaksud untuk meredam kilau cahaya Dhiwa namun lebih kepada menjaga api obor agar tak cepat padam.

Tidak ada pendekatan khusus dari Komeng agar anak asuhnya itu bisa legowo. Kebetulan, Dhiwa tahu betul apa yang ada dalam pikiran sang pelatih. Selaras-senada, mungkin begitu istilahnya.

"Sekarang saya memang lebih sering  membangku cadangkan Dhiwa, alhasil dia bisa merasa humble dengan situasi tersebut dan itu penting untuk perkembangannya," tegas Komeng.



"Saya rasa cukup bagi Dhiwa mendapatkan perhatian lebih sejak awal musim, selain kepentingan rotasi memang sudah waktunya anak ini mendapat kompetitor agar dia merasa "tidak nyaman" dengan statusnya sebagai pemain inti. Sekali lagi, itu penting untuk perkembangannya," tandas Komeng.




  • Tags