Gilang Ginarsa: Menjemput Bola dari Akar Rumput




IJL.Com- Simpang siur nasib roda kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia di tengah masa pandemi Covid-19 tidak membuat eks penggawa Arema FC, Sriwijaya FC, Madura United dan PSIS Semarang, Gilang Ginarsa tinggal diam. Lisensi kepelatihan C AFC baru dikantongi, pesan dari sang mentor Marwal Iskandar jadi pelecut. 

Benarkah Gilang Ginarsa sudah mulai pikir-pikir gantung sepatu? Ataukah akar rumput hanya menjadi ajang pelarian? Simak wawancara selengkapnya bersama IJL News.



Sebelumnya kami dari IJL ingin ucapkan selamat karena Desember kemarin coach Gilang baru saja mengantongi lisensi kepelatihan C AFC. Ada motivasi tersendiri kah mengambil lisensi di tengah situasi seperti ini? Karena kita ketahui roda kompetisi kasta tertinggi kan terpaksa berhenti ya karena imbas pandemi Covid-19.

Terima kasih banyak atas ucapannya. Motivasi saya sendiri mengambil lisensi di tengah pandemi ini tidak lepas sebagai bekal untuk karir ke depannya setelah berhenti sebagai pemain. Waktunya kebetulan pas kosong saat liga dihentikan. Jadi ya saya manfaatkan saja.



Selama roda kompetisi berhenti, apa rutinitas sehari-hari dari coach Gilang khususnya untuk menjaga performa sebagai pemain profesional?

Lebih dimanfaatkan berkumpul dengan keluarga selain itu tentu meluangkan waktu berbagi ilmu dan pengalaman dengan adik-adik di SSB Maesa. Alhamdulillah masih tetap menjaga kondisi dengan jogging ataupun kadang berlatih bermain bola bersama teman-teman sehobi dan seprofesi.



Apa memang sudah mulai berpikir untuk gantung sepatu dan ingin melanjutkan karir dari bangku kepelatihan coach?

Kalau berpikir gantung sepatu jujur saya belum ingin. Melanjutkan karir kepelatihan? Ya, saya ingin mempunyai rencana ke sana, maka dari itu saya berusaha mempersiapkannya dari sekarang.




Kesan pertama saat ikut mencicipi atmosfer kompetisi Indonesia Junior League yang lalu bagaimana coach?

Kesan pertama saya jujur sangat senang, sangat antusias dan bangga melihat banyaknya talenta-talenta muda yang bermain di IJL. Semoga dari kompetisi ini dan berkat asuhan para pelatih yang ada di IJL bisa menghasilkan bibit-bibit pemain handal untuk liga kasta tertinggi maupun Timnas Indonesia.



Kabarnya ikut melatih di Maesa Cijantung itu sejak 2018 ya? Apa betul karena ajakan dari coach Warya Sunarya? 

Iya dulu pas saya masih bermain di PSIS Semarang, setelah selesai kompetisi coach Arya mengajak saya untuk hadir ke Maesa. Kebetulan juga saya sama beliau kenal dekat, sejak masih kecil malah.




Dibanding era coach Gilang saat masih kecil dulu. Bagaimana perkembangan pembinaan sepak bola usia dini di Indonesia sekarang? Apa yang paling terasa berbeda?

Setiap era pasti memang ada perbedaan. Perkembangan pembinaan sekarang yang paling terasa adalah semakin banyak ilmu baru dalam sepak bola terutama metode untuk melatih adik-adik di usia dini, semakin banyak juga wadah untuk mereka berkompetisi.

Saya berharap dengan banyaknya wadah untuk usia dini bukan jadi ajang hanya mencari kemenangan atau trofi semata. Karena yang terpenting saat ini adalah bagaimana adik-adik kita bisa mendapatkan pengalaman bermain yang sama sebagai tempat mereka untuk mengaplikasikan apa yang sudah didapat dalam berlatih. Makanya saya sangat setuju dengan salah satu regulasi yang ada di IJL yaitu mengharuskan pergantian seluruh pemain (regulasi supersub).



Nampaknya fenomena 'hunter' (oknum yang suka mencari pemain cabutan) sudah sampai di telinga coach Gilang ya?

Saya ingat bagaimana ada satu momen saat komentator pertandingan IJL bilang, "awas hati-hati banyak hunter berkeliaran". Saya baru tahu ternyata 'hunter' itu jadi sudah jadi fenomena ya di pembinaan sepak bola usia dini.

Sebenarnya sayang sekali, seharusnya kita sebagai pelatih bisa membina adik-adik agar bisa bermain lebih baik. Perkuat mental mereka, jangan dirusak. Tapi saya yakin, Insya Allah masih banyak teman-teman pelatih yang niatnya memang murni membina dan membimbing ingin menjadikan anak-anak asuhnya calon pemain berkualitas ketimbang jalan instan menjadi juara.




Saat melihat aksi anak-anak Maesa di IJL kemarin apa semakin membuat coach Gilang kangen untuk kembali merumput?

Seperti yang saya bilang, jujur saya sangat terpukau dengan banyaknya talenta-talenta muda di IJL. Niat saya untuk berbagi ilmu ke adik-adik dengan melihat aksi mereka diselipi faktor yang membuat saya lebih bersemangat dan kangen untuk merumput kembali.




Tahun ini apa sudah ada agenda terencana dari coach Gilang? Semisal tawaran dari beberapa tim? Atau memang masih ada kontrak di Semen Padang?

Kalau untuk musim ini kontrak saya di Semen Padang sebenarnya sudah habis di Desember kemarin. Ke depannya juga masih menunggu kejelasan kompetisi dari PSSI baru melihat tawaran kontrak.



Mungkin ada harapan khusus untuk masa depan  sepak bola Indonesia di masa pandemi Covid-19 seperti ini coach?

Harapan saya mungkin sama dengan teman-teman pemain lainnya agar Liga Indonesia cepat kembali bergulir karena banyak sekali yang menggantungkan harapan dan kehidupan di sepak bola. Bukan hanya pemain, pelatih, official tim tetapi juga para pedagang yang biasa mencari nafkah dari sepak bola dengan berjualan di sekitar area stadion misalnya. Untuk usia dini pun berpengaruh, ya adik-adik kita perlu tontonan idola dari dalam negeri agar bisa lebih termotivasi lagi dalam mengejar cita-citanya.




Saya lihat ada pesan di Instagram dari mentor saat kursus lisensi kepelatihan kemarin yaitu Marwal Iskandar dimana ia bilang ilmu yang didapat seharusnya tidak jadi dokumentasi saja. Pesan tersebut menjadi motivasi, pelecut atau malah beban?

Justru menjadi motivasi dan pelecut saya untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman kepada adik-adik. Betul sekali, ilmu itu sendiri akan hilang apabila hanya kita jadikan dokumen saja namun justru bisa makin bertambah apabila kita saling berbagi.

Semoga IJL juga cepat bergulir lagi ya. Harapan kita semua tentunya agar keadaan cepat normal dan membaik lagi.





  • Tags