Jam Terbang Minim, Pelita Jaya Asah Kekompakan Tim




IJL.Com- Baru dipastikan memegang tiket kompetisi IJL Mayapada U-13 pada detik-detik terakhir tidak membuat Pelita Jaya Soccer School galau. Namun faktanya, minim soal jam terbang masih terus menghantui.

Pelita Jaya Soccer School jadi salah satu dari tiga tim terakhir yang melengkapi kuota 28 kontestan IJL Mayapada U-13 selain Garuda Junior dan KMJR Cilegon. Bagusnya, hal tersebut sama sekali tidak menganggu persiapan anak-anak Sawangan. Mengintip lewat proses screening pemain akhir Agustus lalu, skuat asuhan Eddy Pringadi itu nampak pede dengan mengirimkan 25 anak didiknya.

Meski demikian, pekerjaan rumah masih banyak dihadapi sang pelatih. Soal jam terbang misalnya, Pelita Jaya U-13 diakui Eddy masih "seumur jagung".

Fokus dan terus fokus, mungkin itu yang bisa dilakukan Pelita Jaya saat ini. Antisipasi sejak dini sudah mulai dirancang agar kala rumput hijau memanggil anak asuhnya tidak kedodoran.

"Kami masih terus fokus berlatih terutama untuk mengasah kekompakan tim, sejauh ini baru mencapai tahap 50-70 persen. Saya ingin ketika nanti jadwal kick-off sudah keluar anak-anak lebih siap lagi untuk bertanding," jelas Eddy.

"Tapi memang harus diakui tim ini masih kurang dalam jam terbang, banyak anak-anak yang baru bergabung sehingga kedalaman skuat belum lama terbentuk. Tapi kami punya komitmen untuk bisa berjuang di kompetisi ini. Sebagai pelatih, tentu ada tantangan tersendiri dengan kendala tersebut," tambah Eddy.





Eddy memang menyadari berlaga di IJL Mayapada U-13 dengan bekal jam terbang minim bukan hal mudah. Praktis, demam panggung jadi resiko yang harus dihadapi anak asuhnya.

Sebagai pelatih, pendekatan personal ke tiap individu pemain memang jadi obat paling ampuh mengikis demam panggung. Imbasnya, bermain tanpa beban akan membuat permainan tim jauh lebih mengalir.

Dibantu dengan beberapa laga ujicoba masa pra-kompetisi. Jelas, sampai detik ini Edy masih harus banyak putar otak jika tak ingin banyak menelan pil pahit.

"Kami juga masih terus menggelar laga ujicoba sekaligus pembenahan tim selama mas pra-kompetisi," sebut fans berat Rahmad Darmawan dan Carlo Ancelotti itu.



"Kalau demam panggung, tidak hanya level junior, di senior pun pasti alami problem sama. Karena itu saya enggan beri target untuk anak-anak, rileks saat bermain akan jauh lebih penting," tutur pelatih yang sudah enam tahun mengabdi di Pelita Jaya ini.



Badai cobaan tidak membuat Edy buru-buru mengibarkan bendera putih, ia justru semakin getol meramu komposisi terbaik untuk tim asuhannya. Jam terbang minim bukan berarti Pelita Jaya SS akan bermain serampangan di atas lapangan.

Sedikit membuka gaya permainan Pelita Jaya, Edy mengatakan skema 4-3-3 jadi pilihan utama. Bukannya tanpa sebab, patron tersebut memang sudah terlanjur akrab untuk anak asuhnya.

"Anak-anak setiap sesi game internal sudah terbiasa dengan formasi tersebut, ibaratnya lebih klop dari sisi kebutuhan strategi pelatih dan pemahaman pemain," ungkapnya.



"Tapi saya belum bisa prediksi dengan formasi tersebut siapa saja diantara pemain Pelita Jaya yang bisa bersinar. Kita lihat saja di lapangan nanti. Insya Allah, saya juga sudah meraba ketatnya persaingan di Grup Phenomenon," tandas Edy.




  • Tags

Top Categories

Popular News

Pembagian Hadiah & Closing Indonesia Junior Angkasa