Maliek Kumara; Kincir Angin ASTAM

by admin on 3 months ago




IJL.Com- Darah sepak bola sudah terlanjur mengalir deras dalam tubuh bek ASTAM, Maliek Kumara. Dicekoki Ajax Amsterdam, tergila-gila dengan Virgil van Dijk.

Belanda dan sepak bola adalah dua kata yang sulit untuk dipisahkan. Dari Negeri Kincir Angin pula lahir filosofi termasyhur dalam sejarah olahraga dunia kulit bundar yang diberi nama Total Football.

Di gelaran IJL U-13, ASTAM bisa disebut sebagai salah satu tim yang memperagakan gaya permainan Total Football. Pertahanan terbaik adalah menyerang, begitu etos kerja anak-anak Tangerang Selatan.

Di area sektor pertahanan, ASTAM beruntung punya legiun asing berdarah Belanda sekelas Maliek Kumara. Bek dengan postur tubuh yang proporsional, begitu jadi andalan rekan-rekan setimnya dalam urusan duel-duel bola udara.

Layaknya kegunaan kincir angin di tanah leluhurnya, Maliek pun tak ragu ambil bagian memompa aliran bola serangan ASTAM mulai dari lini belakang. Perawakannya begitu tenang, tidak salah ban kapten mulai melingkar erat di lengan pemain bernomor punggung 27 tersebut.

"Ya awalnya sempat ada sedikit beban diberi ban kapten. Total sudah ada lima pertandingan, semakin lama jadi terbiasa," ujar Maliek yang punya darah keturunan Belanda-Indonesia.



Urusan sepak bola, hubungan Belanda dan Indonesia memang terbilang sangat kental. Dari masa ke masa, terekam dalam ingatan hingga nukilan sejarah.

Di Timnas Belanda misalnya, bukan cerita baru jika ada pemain Der Oranje yang punya garis keturunan Indonesia layaknya Maliek. Tercatat ada nama-nama seperti Giovanni van Bronckhorst, Nigel de Jong, ataupun Robin van Persie

Pun begitu dengan mereka yang berdarah Belanda-Indonesia dan berseragam Merah-Putih. Paling beken tak lain tak bukan ada nama Stefano Lilipaly, jauh sebelumnya ada sosok Van der Vin, kiper Timnas era 50-an angkatan Ramang juga Endang Witarsa.

"Kalau soal itu pilih Timnas Belanda atau Indonesia saya belum berpikir terlalu jauh. Saya mau pelan-pelan belajar sepak bola dulu di ASTAM," ujar Maliek.




Ajax Amsterdam jadi klub idola Maliek. Beberapa kali lewat layar kaca, laga Die Amsterdamers pantang untuk ia lewatkan.

"Bukan PSV Eindhoven atau Feyenord Rotterdam. Sama seperti ayah, saya penggemar Ajax," tegas Maliek.



"Pemain idola saya di Ajax itu Matthijs de Ligt, karena sama-sama berposisi sebagai pemain belakang," sambungnya lagi.



Maliek sendiri baru 2018 lalu berseragam ASTAM. Meski demikian, soal adaptasi jangan ragukan komitmen bocah yang sangat mengidolakan bek Liverpool sekaligus kapten Timnas Belanda, Virgil van Dijk tersebut.

Contohnya soal cara Maliek berkomunikasi dengan rekan-rekannya di ASTAM. Darah oranye tidak membuat dirinya lupa dengan bahasa ibu.

"Di rumah sehari-hari pakai bahasa Inggris, terkadang juga Belanda. Tapi saya juga ambil les privat bahasa Indonesia," ujar Maliek.



"Teman-teman di ASTAM juga banyak bantu soal adaptasi bahasa, jadi saya semakin betah di sini," tandas Maliek seraya tersenyum.




  • Tags