Membelah Dada Mario Agustinus Lalumedja

by admin on 2 months ago




IJL.Com- DNA Indonesia Muda Utara mengalir deras dalam darah Mario Agustinus Lalumedja. Nama besar itu kembali dirajut.

Tes Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) adalah prosedur dunia medis yang digunakan untuk mengetahui informasi genetika seseorang. Garis keturunan orangtua sampai ciri-ciri fisik yang bersifat khusus dari ujung kepala sampai kaki bisa dengan mudah diketahui dari tiap sampel DNA individu manusia.

DNA itu pula yang tertanam dalam diri seorang Mario Agustinus Lalumedja. Genetika turun temurun dari perkumpulan sepak bola legendaris Jakarta juga Tanah Air, Indonesia Muda.

"Saya sejak tahun 2000 melatih di SSB Indonesia Muda Utara," buka Mario.



"Kalau di keluarga besar Indonesia Muda sudah sejak remaja dari usia 14 tahun. Ya bisa dibilang jiwa saya memang sudah Indonesia Muda," tambah Mario.



Dukungan sang istri, Mudjiati kian menguatkan langkah pelatih berusia 50 tahun tersebut. Ya, semakin ada penegasan DNA Mario adalah benar Indonesia Muda. Sekali Indonesia Muda tetap Indonesia Muda.

"Dulu ketika masih kecil, ayah saya yang selalu mengantarkan ke tempat latihan atau bertanding bersama Indonesia Muda. Sekarang dukungan itu dilanjutkan oleh istri saya," ujar Mario.



"Belah saja dada saya isinya ya isinya Indonesia Muda," tutur pria dua anak dan dua cucu itu seraya tertawa lebar.



Genap 18 tahun Mario jatuh bangun bersama IMUT. Pengalaman manis sampai pahit pernah dirasakan juru taktik yang mengaku ngefans dengan mantan pelatih Timnas Indonesia U-16, Fakhri Husaini tersebut.

Yang paling tidak terlupakan ada saat 2012 lalu. Megahnya Stadion Utama Gelora Bung Karno jadi saksi.

"Pernah menangani IMUT usia 12 tahun saat turnamen usia dini main di SUGBK. Saat itu pengetahuan saya belum paten betul sebagai seorang pelatih, ya masih mengandalkan apa yang didapatkan waktu menjadi pemain dulu," ujar Mario.

"Tapi tanpa diduga berhasil naik podium bawa gelar peringkat ketiga terbaik. Itu benar-benar tidak bisa saya lupakan sampai detik ini, momen paling berkesan," sambung pelatih yang kini sudah mengantongi lisensi C AFC itu.



Namun memang tak selamanya senyum semringah terpancar dari wajah Mario. Tidak jarang air matanya menetes melihat dinamika persepak bolaan usia muda Tanah Air khususnya yang menimpa Indonesia Muda.

Keluar-masuk pemain mampir di tubuh Indonesia Muda. Ada yang datang juga pergi, terkadang Mario merasa ada rasa kehilangan yang masih sulit ditutupi.

"Pemain yang sejak kecil dari usia delapan tahun sudah kami bina tapi ada saja oknum yang dengan gampangnya melalui iming-iming ke orangtuanya untuk pindah main di SSB tertentu," ujar Mario.

"Ya sama seperti pelatih SSB kebanyakan sepertinya pernah merasakan apa yang saya rasakan," tambahnya lagi seraya menghela nafas.



Loyalitas tanpa batas Mario untuk IM Utara rasanya memang sudah tidak perlu diragukan lagi. Lahir dari rahim dengan nama besar membuat dirinya selalu diselimuti motivasi berlipat.

"Kami memang sudah punya nama yang besar, kalau bicara beban ya pasti ada, sedikit berat di pundak tapi saya jalani dengan penuh semangat. Indonesia Muda sedang dibangun kembali, ibaratnya sekarang sedang membangun timnas kecil," tegas Mario.



Batu pijakan itu didapat Mario Oktober 2017 lalu. Tidak main-main, skuat Indonesia Muda skala nasional ia besut untuk berlaga di negeri tetangga, Malaysia.

"Kenapa saya sebut memang ada beban?  Karena ada beberapa event yang saya kawal atas nama Indonesia Muda gabungan pemain dari seluruh Tanah Air," ujarnya.

"Kemarin di Sabah Malaysia diberikan kepercayaan mengawal anak-anak Indonesia Muda dari Jakarta, Sragen, Kroya, Semarang, Surabaya, Bengkulu, sampai Ternate. Membanggakan bisa kunci gelar runner-up Borneo Cup," tandas Mario seraya tersenyum.






  • Tags