Merias Wajah Stadion Mini Cisauk




IJL.Com- "Merias" wajah Stadion Mini Cisauk tidak semudah membalikkan telapak tangan. Meski demikian hal tersebut jadi tantangan untuk operator kompetisi sepak bola usia dini, Indonesia Junior League.

Stadion Mini Cisauk resmi dipilih sebagai "markas" IJL Mayapada U-13 2018/2019. Venue yang terletak di kawasan Suradita, Kabupaten Tangerang itu memang sudah dibidik sejak dua bulan belakangan ini. Letaknya yang dinilai cukup strategis karena mudah dijangkau termasuk berdekatan dengan Stasiun Cisauk (hanya berjarak 200 meter) jadi penunjang tambahan.

Meski demikian dari kacamata teknis, stadion kebanggaan warga Cisauk itu memang perlu penanganan yang tepat. Bicara soal sepak bola, apalagi sorotan utamanya kalau bukan kesiapan dan kualitas rumput di atas lapangan. 

Tekstur tanah Stadion Mini Cisauk membuat Sachroni, penanggung jawab lapangan IJL harus banyak putar otak. Hal ini akui akan berbanding lurus dengan kualitas rumput selama kompetisi berjalan.

"Dibanding Lapangan Bandara Soekarno-Hatta sampai Puspiptek Serpong yang pernah saya tangani bersama IJL, harus diakui penanganan Stadion Mini Cisauk ini jauh lebih mudah," buka Roni.



"Maksudnya mudah adalah memang dari awal lapangan dikhususkan untuk kegiatan sepak bola namun sayang perawatannya kurang terjaga hingga berimbas pada tekstur tanahnya," sambung Roni.


Sebelum IJL "turun tangan", kondisi Stadion Mini Cisauk memang harus diakui masih jauh dari kata layak. Tanah yang kering kerontang membuat hijaunya rumput urung muncul ke permukaan.

Tidak heran sampai saat ini Roni bersama timnya masih fokus membenahi tekstur lapangan yang ia sebut cukup bergelombang bahkan berlubang. Dirinya tentu tidak ingin di balik "karpet" yang hijau namun menyimpan banyak senjata makam tuan hingga membuat pemain jatuh cedera.

Roni sendiri bukan orang baru jika sudah bergelut dengan rumput hijau. Pengalamannya berguru di Villa 2000 hingga Persija Jakarta jadi nilai tambah yang tidak bisa dipungkiri.

"Penanganan paling awal saat menghadapi tekstur lapangan yang bergelombang juga berlubang lebih kepada menambalnya dengan pasir namun tidak boleh sembarangan karena disini sifat pasir sudah sebagai media tanam. Intensitas penyiraman juga harus diperhatikan," ungkap Roni.





"Di Stadion Mini Cisauk juga masih banyak rumput liar, jadi harus kami bereskan satu per satu agar tidak mengganggu pertumbuhan rumput yang baru," sambung pria asal Pemalang, Jawa Tengah itu.



Roni sendiri menambahkan fokus IJL bukan hanya soal "merias" wajah Stadion Mini Cisauk namun juga lebih kepada perawatan ke depannya. Disinilah ia meyakini betapa pentingnya melihat lapangan sepak bola sebagai aset penting jika ingin dunia kulit bundar Tanah Air lebih maju.

"Dari sisi alat-alat untuk perawatan lapangan sebenarnya Stadion Mini Cisauk terbilang cukup lengkap, namun ya itu tadi jarang digunakan. Idealnya kan seminggu tiga kali harus dicek secara lebih intensif. Sistem drainase juga kami perbaiki lagi," ucap Roni.

"Sejauh ini tahapannya baru mencapai 50 persen. Semoga bisa lebih baik saat peluit kick-off dibunyikan. Saya ingin anak-anak bermain dengan nyaman, suporter juga bisa menikmati jalannya pertandingan," tandas Roni.



Pekerjaan rumah IJL merias wajah Stadion Mini Cisauk memang tidak hanya sekadar di atas lapangan saja. Pembenahan tribun penonton juga tak luput dari perhatian begitu juga dengan kebersihan sekitar area venue pertandingan.



  • Tags