Muhammad Arfan; Dari Michael Jordan, Hamka Hamzah Sampai Panggilan Aseng




IJL.Com- Aseng ternyata bukan hanya sekadar nama panggilan tapi sudah jadi "brand" untuk seorang Muhammad Arfan. Sesuatu yang membuat dirinya terlanjur bangga.

Di dalam kultur masyarakat Indonesia, arti kata aseng sudah mendapat konotasi negatif. Biasanya sebutan itu muncul untuk menggambarkan sosok konglomerat keturunan Tionghoa yang kaya raya dan punya kuasa. Sangat kental dengan aroma ekonomi politik memang.

Meski demikian, hal itu tidak membuat pelatih Gelora Poetra, Muhammad Arfan ambil pusing. Baginya panggilan Aseng yang melekat untuk dirinya adalah sebuah ciri khas tersendiri.

"Awal dipanggil Aseng itu ya waktu melatih di SSB. Karena rada mirip-mirip orang China dipanggil Encex atau Acong. Tapi karena sudah banyak teman-teman yang pakai nama tersebut ya munculah nama Aseng," ujarnya.



"Kalau saya sih ga terganggu ya, sudah jadi ciri khas untuk teman-teman saya di dunia sepak bola soalnya. Malah lebih mudah dikenalin sepertinya," tambah Aseng.





Disinilah "otak dagang" Aseng mulai bekerja. Ciri khas tersebut nytanya tidak hanya ia gunakan untuk nama panggilan semata.

Ya, selain tengah mencoba bergelut di sepak bola usia dini, Aseng juga punya usaha lain dengan membuka lapak sportwear via online. Branding yang dipakai pun tidak jauh-jauh dari nama panggilannya.

"Ha-ha-ha, iya juga sih ya, nama Aseng malah jadi brand," tuturnya.



"Ya Aseng 23 Sport. Kenapa ada angka 23 di dalamnya? Saya fans berat Michael Jordan dan Hamka Hamzah. Dulu kan pernah satu tim dengan Hamka," sambung pria kelahiran Bogor tersebut.




Ya meski baru memutuskan terjun di level sepak bola usia dini, Arfan bukan orang baru dalam dunia kulit bundar Tanah Air. 2008 contohnya, ia pernah berseragam Persik Kediri yang saat itu diperkuat pemain-pemain sekelas Markus Horison, Aris Indarto, Budi Sudarsono hingga Cristian Gonzales. Saat itu Aseng mendapat nomor punggung 5 di skuat Macan Putih 

"Betul dulu satu tim dengan Hamka di Persik, posisi saya kebetulan sama yaitu bek. Tapi itu cuma kenangan karena selalu jadi penghuni bangku cadangan abadi di skuat Macan Putih," terang Aseng seraya tertawa.



Memang, lembaran baru sepertinya ingin dibuka Aseng saat ini. Sebagai awal, ajakan dari Rochi Putiray membesut Gelora Poetra jadi pilihan yang ia ambil.

"Baru gabung di Gelora Poetra akhir 2017, dapat tawaran langsung dari Rochi Putiray. Saya mau belajar melatih sekaligus menyalurkan ilmu yang pernah didapat," tandas pelatih berusia 35 tahun itu.






  • Tags