Ruby Luqman Kressnayuda; Peluk Hangat Sang Nenek




IJL.Com- Jauh dari pelukan orangtua tidak membuat kiper Garuda Muda Soccer Academy (GMSA) U-9 Ruby Luqman Kressnayuda kesepian. Dukungan tulus sang nenek, Maymunah Hariyadi sungguh tak ternilai harganya.

Cuaca terik lapangan Nirwana Park Sawangan tidak membuat Maymunah Hariyadi alergi. Bermodal kipas lipat, ia rela berjemur di tengah derasnya ombak sinar matahari yang semakin meninggi. Usia uzur bukan halangan berarti.

Bentuk kecintaan Oma Hariyadi, untuk sang cucu, Ruby Luqman Kressnayuda memang tidak perlu diragukan lagi. Dalam beberapa pertandingan ia bahkan sempat nekat masuk menembus gate pemain demi mendukung perjuangan Ruby. Ya, maklum naluri keibuan memang tidak bisa berbohong.

Oma Hariyadi sendiri sebenarnya bukan tipe penggemar sepak bola. Namun untuk urusan cucu kesayangannya, jangan ditanya.

"Ibunya Ruby kebetulan saat ini memang sedang ada di Thailand, ambil kuliah S3 disana. Jadi ya sekarang kemana-mana bersama neneknya," ujar Oma Hariyadi seraya tersenyum ramah.

"Senang saja sih lihat Ruby punya kegiatan positif, apalagi sepak bola ini arena yang mengajarkan arti kemenangan dan kekalahan, jadi cucu saya punya banyak kesempatan belajar meski sebagai seorang nenek sedih juga kalau lihat dia kebobolan," tambahnya lagi seraya kembali melempar senyum.





Ruby memang beruntung, jauh dari pelukan orangtua tidak lantas membuat dirinya kesepian. Selama masih ada sang nenek di belakangnya, ia nampak jauh lebih kuat menahan rindu.

"Ibunya tahu kalau Ruby sekarang tiap Minggu sedang ikut kompetisi IJL, kami juga sesekali kirim foto dan video saat Ruby main via WhatsApp. Ya setidaknya jadi pelepas rindu juga," ujar Oma Hariyadi.



"Untuk urusan sepak bola, Ruby sebenarnya juga dapat dukungan penuh dari pamannya, sering diskusi juga," tambah Oma Hariyadi lagi.



Paman Ruby, Agung juga tak kalah gembira melihat perjuangan keponakannya di bawah mistar gawang Garuda Muda Soccer Academy. Ia juga mengaku salut dengan pengorbanan bocah kelahiran 9 Maret 2010 itu demi tim yang dibela.

"Ruby ini awalnya striker, ya maklum namanya anak-anak di level grassroot impiannya pasti bisa bikin gol," ujar Agung.

"Kemudian sempat ada krisis kiper di GMSA, lalu Ruby memberanikan diri ambil posisi penjaga gawang, ya salut saja dengan keputusannya tersebut, kebetulan di tim sekolahnya ia pernah menjadi penjaga gawang. Terpenting proses mau belajar saja sebenarnya," tambah Agung.

"Ya ada rasa sedikit tegang juga sih sebenarnya lihat Ruby menahan gempuran penyerang lawan yang berbondong-bondong mau bikin gol, sebagai suporter justru jauh lebih gembira melihatnya. Tapi sekali lagi, saya menyerahkan ke anaknya saja, ia toh enjoy di bawah mistar gawang GMSA," tandas Agung.



Tidak ada masalah memang bagi Ruby untuk jatuh-bangun bermain di "belakang panggung". Semoga suatu saat nanti cita-cita mengikuti langkah David de Gea bisa kesampaian.



  • Tags