Wawancara Eksklusif Bernhard Schumm: Tersulut Kebisingan Indonesia Junior League




IJL.Com- Riuh rendah gelaran Indonesia Junior League (IJL) membuat mantan pelatih Timnas Indonesia era awal 2000-an berdarah Jerman, Bernhard Schumm angkat topi. Sistem kompetisi yang terstruktur,  berjenjang dan punya rancangan besar sudah tidak bisa ditawar lagi jika ingin memutus rantai proyek pemain naturalisasi. 

Bagi pecinta sepak bola Indonesia dari era 90-an, nama Bernhard Schumm sejatinya sudah tidak terdengar asing lagi di telinga. Sosoknya kerap wara-wiri di layar kaca dan surat kabar olahraga, pelatih asal Jerman yang menelurkan pemain-pemain berbakat layaknya Bambang Pamungkas, Ellie Aiboy, Ismed Sofyan, Purwanto, Ilham Jayakesuma, Warsidi Ardi dan tentunya masih banyak lagi. 

Bernhard Schumm pernah menangani Timnas Indonesia di tahun 1999 saat ajang SEA Games XX Brunei Darussalam dan Kualifikasi Olimpiade 2000 Sidney. Sebelumnya pada 1996, ia terlebih dahulu menjabat sebagai Direktur Teknik PSSI. 





Setelah lama meninggalkan Indonesia, Schumm kembali lagi menginjakkan kaki di negara yang begitu dirindukannya. Memasuki usia kepala tujuh, gairahnya tetap sama jika sudah bicara soal sepak bola. Lugas, tanpa basa-basi. 



Minggu (20/6), di tengah sengitnya kontestasi persaingan Indonesia Junior League U-11 yang sudah memasuki Babak Champions 16 Besar, Bernhard Schumm turut hadir mencicipi atmosfer kompetisi. Memang bukan sebagai pelatih namun barisan pendukung Young Warrior FA. 

Kebetulan memang, beberapa hari sebelum peluit kick-off babak Champions 16 Besar dimulai, Bernhard Schumm turut mewarnai persiapan Young Warrior guna mengarungi rangkaian laga prestisius. Momen itu juga digunakan untuk saling melepas rindu dengan salah satu anak asuhnya di Timnas Indonesia, Warsidi Ardi. 

Meski arena venue IJL, lapangan Batalyon Arhanud diguyur hujan rintik-rintik, Bernhard Schumm begitu antusias melayani sesi wawancara dengan IJL News. Berikut petikannya:



Bagaimana kesan pertama Anda menonton kompetisi Indonesia Junior League? 

Suasananya yang saya tangkap sangat positif sekali. Kompetisi terorganisir dan atmosfer yang diciptakan IJL luar biasa. Di atas lapangan, saya lihat pemain seperti tak pernah kehabisan determinasi. 

Mungkin itu karena teriakan tak ada habisnya dari ibu-ibu yang sangat bising mendukung dari pinggir lapangan, ha-ha-ha. Sepak bola memang memerlukan suporter karena tidak hanya skill dan teknik saja yang diuji namun juga mental. Ini sama persis dengan di Jerman di sana. Maklum saja, sama-sama negara gila sepak bola.





Apa kebisingan itu pula yang membuat Anda rindu dan memutuskan untuk kembali ke Indonesia? 

15 tahun saya menjabat sebagai direktur teknik dan membantu Federasi Sepak Bola UEA sebelum memutuskan kembali ke Indonesia. Mereka juga punya liga usia dini mirip seperti IJL, tapi ada satu yang tidak saya temui di sana yaitu atmosfer suporter. Jangan heran saat pertandingan digelar, stadion atau lapangan tetap kosong melompong. 

Itu sebenarnya salah satu yang membuat saya rindu sepak bola Indonesia bagaimana atmosfer suporter bisa menciptakan pemain yang punya determinasi di atas lapangan. Bulu kuduk saya bisa berdiri. 





Indonesia adalah negara yang besar namun rasanya sulit membentuk Timnas sepak bola yang punya pondasi solid dan kuat. Apa masalah paling utama menurut Anda? 

Indonesia sangat-sangat luas sekali dengan karakter lokal berbeda-beda. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana menciptakan kompetisi yang berjenjang dan terstruktur. Federasi yaitu PSSI punya perwakilan di tiap daerah, pertanyaannya adalah sejauh mana mereka bisa menciptakan program tersebut. 

Tidak cukup hanya fokus ke Liga 1 atau 2 saja. Kompetisi tingkat daerah juga harus disiapkan lebih matang seperti misalnya Bundesliga yang mulai dari U-15. Memang tidak bisa membandingkan Indonesia dengan Jerman tapi di sini tak pernah kehabisan pemain bertalenta jadi harus ada upaya semaksimal mungkin. 





Selain kaget dengan kebisingan atmosfer IJL. Menurut Anda, apa hal lain yang bisa dipetik dari ketatnya sebuah pertandingan dengan sistem kompetisi? 

Dari kompetisi IJL saya lihat semua tim punya pemain dengan karakter unik. Padahal baru kompetisi regional Jabodetabek, Jawa Barat dan Banten apalagi jika seluruh Indonesia bisa bermain dengan atmosfer seperti ini. 





Tiap tahun, Timnas Indonesia selalu ramai dengan proyek naturalisasi pemain. Menurut Anda, bagaimana dampaknya untuk sistem pembinaan sepak bola usia dini? 

Pemain naturalisasi setidaknya harus punya dua atau tiga level di atas pemain lokal. Jika masih setara, saya kira itu bakal percuma. Timnas harus tahu kebutuhannya apa, seperti yang dilakukan Filipina. 

Daripada memikirkan atau mencari-cari pemain naturalisasi alangkah lebih baiknya Indonesia memantapkan kompetisi lokal. Ya kembali syaratnya berjenjang. Adanya Liga 1 U-19 sudah bagus, karena seperti yang saya  bilang, sejak 1996 tiba di Indonesia, negara ini tidak kekurangan pemain bertalenta dengan potensi besar. 





Young Warrior punya salah satu pemain bertalenta dan dia adalah seorang perempuan yaitu Claudia Schneumann. Apa Anda mengamatinya? 

Claudia? Wow, anak ini punya bakat. Dia bermain bola dengan menggunakan ini (sambil menunjuk kepala), dia punya visi saat menggiring, menahan bola dan memberi umpan ke temannya. 

Jika terus dibina dengan baik, pemain seperti Claudia ini bisa memberikan warna dan harapan baru untuk sepak bola Putri di Indonesia. 





Anak asuh Anda di Timnas Indonesia U-19 tahun 1999 dulu yaitu Warsidi Ardi kini tengah menapaki karir sebagai pelatih di level sepak bola usia dini. Ada komentar? 

Saya bangga melihatnya. Ia punya visi saat membawa timnya bermain. Harus diingat, karakter libero yang Warsidi punya masih terasa. 

Menjadi seorang libero itu tidak mudah, harus punya intelegensi meraba situasi pertandingan. Saya lihat Warsidi sedang menerapkannya sebagai pelatih saat ini. 




  • Tags