Saprano Rangkuti; Keringat Dingin Bertemu Ansyari Lubis




IJL.Com- Mengarsiteki PSMS Medan jadi impian terbesar pelatih Laskar Pelangi Soccer, Saprano Rangkuti. Terinspirasi jejak pahlawan masa kecil, Ansyari Lubis.

Cita-cita masa kecil Saprano Rangkuti untuk menjadi seorang aktor rumput hijau taraf profesional terpaksa ia kubur dalam-dalam. Berpuluh-puluh kali ikut seleksi namun apa daya selalu gugur di tengah jalan.

Pahit. Itu yang dirasakan oleh Sapran. Andai saja masa lalu bisa diulang, mungkin begitu gumamnya dalam hati.

"Cita-cita dari kecil memang ingin menjadi pesepak bola profesional gara-gara lihat Juergen Klinsmann dan Gabriel Batistuta," ungkap Sapran.



"Tapi apa mau dikata pupus di 2014, waktu itu pas seleksi di Persip Pekalongan, gagal terus-menerus kalah bersaing, ya maklum rada sulit juga kalau ga punya "orang dalam", ujar fans berat Manchester United dan Fiorentina itu seraya tersenyum kecil.



Meski demikian, dunia si kulit bundar tidak membuat Sapran alergi. Aroma magis rumput hijau tetap tak kuasa ia tolak.

Pilihannya adalah terjun di dunia kepelatihan. Sejak 2012, lisensi D Nasional sudah ia kantongi.

"Tidak bisa berbohong, saya cinta betul dengan sepak bola. Pupus memang semua harapan masa kecil tapi harus tetap menatap ke depan," tegas Sapran.



"Kini tugasnya lebih besar yakni melahirkan generasi baru untuk masa depan sepak bola Indonesia," sambung pria berdarah Batak tersebut.



Ribak sude. Hantam semua masa lalu yang menghantui. Bagi Sapran memang tidak ada yang perlu ditangisi.

Nama Ansyari Lubis jadi pegangan pria berusia 31 tahun tersebut. Ya, Sapran kini tidak lagi takut untuk menerbangkan mimpi-mimpinya kembali.

Seperti kebanyakan orang-orang dari tanah Sumatera Utara, Uwak (sapaan akrab Ansyari Lubis) memang jadi panutan. Eks pemain Timnas Indonesia era 90-an tersebut bisa dibilang adalah pahlawan masa kecil Sapran.

"Betul, Ansyari Lubis adalah pahlawan masa kecil saya yang sebenarnya. Siapa tidak kagum dengan visi bermainnya saat sudah di atas lapangan," tutur Sapran yang kini sudah mengantongi lisensi C AFC.



"Saya punya mimpi untuk menjadi pelatih PSMS Medan seperti Uwak. Alhamdulillah, sempat bertemu dengan beliau. Layaknya fans ketemu idola pasti minta foto, apa yang terjadi saat itu? Tangan saya gemetar, tersipu malu," tandas Sapran tak kuasa menahan tawa.



Proses demi proses memang harus ditapaki oleh Sapran. Kompetisi IJL U-13 jadi langkah paling awal dimana ia mendapat peran mengarsiteki tim muda, Laskar Pelangi Soccer.



Meski di awal musim tidak diperhitungkan, sepak terjang Laskar Pelangi sempat menggebrak peta persaingan di IJL U-13. Tercatat, anak-anak Pasar Kemis pernah menduduki label capolista selama dua pekan.

Laskar Pelangi saat ini berada di peringkat kedelapan klasemen sementara Grup Phenomenon. Aidil Akbar dan kawan-kawan punya kesempatan besar untuk lolos ke fase knock-out meski harus melewati partai sarat kepentingan selepas libur lebaran nanti. Ya, disinilah peran Sapran diuji.



  • Tags