Tak Ada Kata Menyerah Dalam Kamus Muhammad Tegar Fahrizi




IJL.Com- Baru kebobolan empat gol dari 10 laga jadi bukti betapa tangguhnya lini belakang ASTAM U-11. Saatnya kita menengok betapa vital peran sang kiper, Muhammad Tegar Fahrizi di bawah mistar gawang. Sesuai dengan namanya, tak ada kata menyerah dalam kamus seorang Fahri.

36 poin dari 10 laga jadi bukti konsistensi penampilan anak-anak ASTAM U-11 di kompetisi IJL Mayapada 2018. Ganjarannya pun terbilang setimpal kala tim asuhan Robin Meilast itu bertengger di posisi runner-up Grup A Phenomenon menempel ketat sang pemuncak klasemen, Putra Sejati.

Menoleh ke sektor belakang, barisan bek tangguh jadi garansi ASTAM bisa terus berada di trek positif. Kombinasi Arun Kjell, Christian Deo Putra Lambok juga Muhammad Adham membuat pemain lini depan layaknya Fernanda Dwi Sutrisna sampai Ryan Halim Handoko terlihat jauh lebih nyaman.

Meski demikian, betapa kokohnya pertahanan Deo Cs tidak akan berjalan sempurna tanpa kehadiran seorang kiper bermental baja seperti Muhammad Tegar Fahrizi. Fahri sapaan akrabnya perlahan-lahan mulai membuktikan dirinya memang pantas "naik pentas".

Sejauh ini, catatan statistik di atas lapangan memang membuktikan semuanya. Dari empat laga terakhir, Fahri mampu menorehkan clean-sheet alias nir-kebobolan.

"Dia ini termasuk anak yang sangat disiplin dalam hal latihan. Semangatnya sangat tinggi untuk terus berkembang. Disamping itu dia memang juga punya pelatih kiper sendiri, ambil les privat," ujar juru taktik ASTAM, Robin.





Yang menarik, proses Fahri hingga sampai berdiri di bawah mistar gawang ASTAM U-11 tidaklah mudah. Jatuh bangun harus dilaluinya 

Beruntung di ASTAM ia tidak hanya ditempa dari segi skill dan teknik namun juga mental. Keberaniannya untuk mencoba posisi kiper pun dapat acungan jempol dari Robin.

Usut punya usut, Fahri memang sempat "tersingkir" dari ketatnya persaingan internal di tubuh ASTAM. Namun, tak ada kata menyerah dalam kamus seorang Fahri.

"Fahri sudah ada di ASTAM sejak usia tujuh tahun. Awalnya dia hanya sering menemani kakaknya yaitu Dhaifan (kini ASTAM U-14) latihan. Lama-lama tertarik juga dia mengikuti jejak sang kakak," tutur Robin.



"Awalnya dia bukan kiper, pernah cicipi semua posisi. Tapi karena badannya agak gemuk, Fahri sering kesulitan berlari, dari situlah awal dirinya jadi penjaga gawang ya mungkin karena saingannya sedikit juga," sebut CR sapaan akrabnya seraya tertawa.



"Tapi begitulah Fahri, dia ini memang tidak pernah mau berhenti untuk belajar dan terus mencoba. Selalu ingin buktikan dirinya tidak salah berdiri di bawah mistar gawang. Beberapa kali dapat gelar kiper terbaik pula, waktu itu saya ingat pas turnamen Puma Cup U-9," tegas CR sapaan akrab sang pelatih.







Proses tidak mengkhianati hasil, itu kalimat yang dikeluarkan Robin saat ditanya pendapat mengenai sosok Fahri. Tanpa ragu ia menyebut anak asuhnya itu bisa jadi contoh rekan-rekan setimnya yang lain.

"Keuntungan punya Fahri? Saya senang punya pemain yang selalu punya sikap disiplin. Orang yang mau belajar tidak akan pernah mengkhianati hasil," tuturnya.



"Fahri setidaknya bisa jadi contoh pemain ASTAM yang lain. Berlatih dan terus berlatih. Saya selalu punya harapan ia bisa masuk deretan pemain terbaik IJL Mayapada tiap pekannya. Semoga keberuntungan berpihak ke anak ini," tandas Robin.




  • Tags